Kamis, 31 Desember 2009

Tahun Baru (Semangat Baru Kelakuan Lama)


Tahun baru 2010 sekitar 8 jam lagi, hampir semua orang di jagad ini sudah bersiap-siap merayakannya. Ada perayaan besar dan meriah, ada juga perayaan syahdu penuh doa, semua sama pada intinya merayakan pergantian tahun. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 18 Desember 2009, umat Islam pun merayakan tahun baru 1430 hijriah, namun tidak ada ceremonial khusus dengan tahun baru ini. Akhir tahun ini ditutup dengan beberapa berita heboh diantaranya launching buku Gurita Cikeas sampai berita duka meninggalnya mantan Presiden RI yang ke-4 yaitu bapak Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur.

Buku Gurita Cikeas telah banyak menimbulkan kontroversi mengenai kebenaran isinya, sampai-sampai terjadi insiden pemukulan yang dilakukan oleh sang penulis buku George A. kepada anggota DPR RI dari fraksi Partai Demokrat Ramadhan Pohan. Terlepas dari apa isinya, peristiwa ini menunjukkan ketidak dewasaan sang penulis dalam menyikapi perbedaan pendapat. Dia bisa dengan mudahnya memukul orang yang memberikan bantahan kepadanya atas tulisan yang dibuat dalam bukunya, sementara dirinya sendiri (boleh dibilang) menceritakan aib orang lain yang kita sendiri belum tahu kebenarannya. Peristiwa ini juga menunjukkan adanya semangat baru yang muncul dalam proses pemberantasan korupsi, tapi masih dengan cara-cara lama yaitu kekerasan dan main tuduh. Saya tidak melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi seharusnya jika pada saat itu sang penulis buku bisa menerima argumen dan berdebat dengan kepala dingin, maka peristiwa itu tidak perlu terjadi karena itu hanya akan membuatnya menjadi tidak baik di mata orang awam.

Siapapun boleh datang pada acara launching buku tersebut. Terbukti launchin itu terbuka untuk siapa saja, jadi bahwa Ramadhan Pohan tidak diundang pada acara tersebut tidak bisa alasan untuk pembenaran apa yang dilakukan penulis. Semangat baru kelakuan lama.

Tahun baru biasanya dijadikan media refleksi bagi tiap orang atas apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir agar bisa dijadikan bahan koreksi di tahun depan. Tahun baru juga harus dihadapi dengan optimis bagi mereka yang sedang mengalami suatu kegagalan atau musibah, karena harapan itu selalu ada jika kita mau berusaha. Tahun baru harus kita hadapi dengan suatu keyakinan bahwa semua akan berubah ke arah lebih baik dan tentunya didukung oleh kelakuan dan sikap kita.

Penulis mengucapkan selamat tahun baru 2010 dan tahun baru 1430 hijriah, semoga tahun depan kita bisa berubah menjadi lebih baik dari tahun lalu, dan kita tidak mengulangi kebodohan dan kesalahan yang sama. Waktu tidak mungkin berputar kembali, jadi tidak ada kesempatan kedua jika kita tidak mau berusaha. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi yang terbaik, juara, dan khusnul khotimah. Amin

Rabu, 30 Desember 2009

Learn To Be A Samurai


Dari dulu yang namanya dunia beladiri, martial art, sudah aku gelutin walaupun tidak tuntas. Aku sangat tertarik dengan filosofi yang terkandung di dalamnya selain dari kehebatan setiap ilmunya. Ketertarikanku terhadap beladiri dimulai waktu aku kelas 1 SMP akibat dipukul oleh berandalan cilik dari sekolah lain yang terkenal kebandelannya. Akhirnya aku belajar silat tenaga dalam, dan aku meraih level yang boleh dibilang tinggi untuk anak seumuranku. Tidak banyak anak sebayaku yang belajar silat tenaga dalam, mereka lebih suka belajar karate, taekwondo, dll, karena lebih nyata hasilnya, begitu kata teman-temanku. Tapi anehnya aku tidak pernah ketemu lagi oleh anak yang pernah memukulku, walaupun pada saat itu aku ingin bertemu dengannya untuk membalas perbuatannya padaku.

Waktu SMA aku belajar lagi beladiri baru yaitu kungfu, disitu benar-benar kesabaranku diuji. Latihannya cukup keras dan cenderung membosankan, banyak yang tidak betah dan keluar dengan sendirinya. Aku banyak belajar mengenai filosofi beladiri, karena aku berusaha mencari literatur mengenai beladiri. Belajar memerlukan ketekunan dan kesabaran, itu intinya. Anak muda biasanya cenderung tidak sabar dan ingin segera melihat hasilnya, tanpa memikirkan kesempurnaan dari proses yang dilalui. Mereka biasanya belum bisa mengendalikan emosi dan rasa takutnya pada saat menghadapi kenyataan, sehingga semua ilmu yang dipelajarinya lupa dipraktekan, akhirnya bisa ditebak, seni bertarungnya pun seperti seni bertarung jalanan, tanpa etika dan cenderung brutal.

Pada waktu aku belajar kungfu, aku juga belajar karate dari adikku, dan taekwondo dari temanku. Aku berusaha mengambil intisari dari ilmunya yang bisa aku kombinasikan dengan kungfu yang aku kuasai, terutama mengenai filosofi tiap gerakannya. Selain filosofi gerak, aku juga sangat tertarik dengan filosofi jalan hidup dari tiap aliran beladiri. Dari semua aliran beladiri yang ada aku bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa, semakin tinggi ilmu yang kita kuasai semakin besar juga peperangan melawan keinginan diri ini, oleh karena itu tepat seperti apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW setelah perang di bulan Ramadhan, bahwa peperangan terbesar adalah perang melawan hawa nafsu.

Saat aku kuliah di Bogor aku belajar kempo, ya kurang lebih hampir sama dengan karate tapi full filosofi seperti kungfu, jadi perpaduan gitu deh. Kempo yang aku gelutin tidak lama hanya 6 bulan, dan aku mulai mencoba menyusun tulisan yang isinya mengenai sejarah beladiri. Namun tulisan itu belum jadi sampai akhirnya aku harus bekerja di Jakarta. Setelah kurang lebih 7 tahun bekerja aku berkenalan dengan budaya sebuah kaum di Jepang yang terkenal yaitu Samurai. Jika kita mendengar kata Samurai yang terlintas di benak kita langsung sebuah pedang, yaach...walaupun tidak sepenuhnya benar tapi memang pedang itulah yang menjadi ciri khas seorang samurai.

Perkenalanku dengan samurai dimulai waktu aku menonton film The Last Samurai pada waktu awal kerja. Dari film itulah beberapa cuplikannya diambil untuk materi training di tempat aku bekerja. Tanpa aku sadari pesan moral dari film itu mulai masuk dalam diriku dan membuat aku tertarik dengan budaya kaum ini. Namun apalah daya rutinitas pekerjaanku membuatku tidak mampu menekuni ilmu Samurai ini, sampai akhirnya owner perusahaan tempat aku bekerja belajar ilmu pedang Samurai, dan memperkenalkannya kepada kami. Beliau juga akhirnya mengikuti ujian di Jepang langsung ke sumbernya dan alhamdulillah mendapatkan juara 2 dari kompetisi samurai aliran Nakamura serta memperoleh Dan 1. Suatu gelar tertinggi suatu aliran beladiri diatas sabuk hitam. Ownerku itu dinobatkan sebagai pemegang Dan 1 pertama di Asia Tenggara, karena memang belum ada yang menyandang gelar tersebut di Asia Tenggara. Ilmu itu dibawa kembali ke kantorku, dan sekarang kita mendirikan sebuah dojo latihan pedang aliran Nakamura.

Belajar pedang aliran Nakamura ternyata tidak mudah dan perlu kesabaran dan latihan terus menerus. Dari cara menggenggam pedang saja kalau salah dari awal maka untuk memperbaikinya jika sudah telanjur akan sangat lama sekali. Setiap gerakan penuh dengan filosofi dan makna yang dalam. 

Samurai adalah sekelompok orang di Jepang yang sangat menjunjung tinggi prinsip moral dan nilai-nilai kebaikan.

Rabu, 02 Desember 2009

Belajar Nge-Blog


Mungkin judul itu terasa basi bagi telinga orang yang sudah memulai ngeblog bertahun-tahun yang lalu.  Sudah hampir 2 tahun lalu aku belajar untuk ngeblog tapi selalu gagal, padahal dulu aku termasuk orang yang suka menulis pengalaman maupun cerita. Namun ketika aku mulai untuk menulis, rasanya ada suatu hal yang membuat aku sulit untuk melanjutkan tulisanku, dan aku tidak tahu kenapa.

Sekarang aku mencoba untuk menulis lagi, makanya blog ini aku beri nama "Belajar Nge-Blog", karena memang aku niatkan untuk mempelajari semua dari awal, bukan hanya belajar feature di blog ini, tapi juga belajar menuangkan apa yang ada dalam kepalaku menjadi sebuah tulisan. Aku tidak mau muluk-muluk dalam mengisi blog ini, aku hanya mau share apa yang aku rasakan, setidaknya itu mengurangi beban pikiranku selama ini. Tidak semua hal bisa kita share dengan teman, sahabat, keluarga, istri, suami, ataupun orang tua kita. Mungkin ada hal-hal yang harus kita keluarkan tapi ya itu tadi...sulit untuk diungkapkan, dan blog inilah pilihannya.

Kenapa Blog?? kalo aku nulis di buku ada kecenderungan males sejak adanya komputer, yang kedua karena capek nulisnya, karena kadang antara pikiran dan tangan tidak sinkron, akibatnya kadang tulisannya ngawur, akhirnya dihapus, terus jelek deh bukunya.  Nah kalo di blog... kalo capek bisa berhenti, kalo salah bisa diedit, bisa dibagusin lagi. Tapi ada jeleknya juga sih, kalo lama ga buka blognya, jadi males juga ngisinya, udah basi, katanya.

Friend, I need your help, please comment in my blog, sehingga aku bisa terpancing untuk menulis hal-hal lain. Please...kita masih temenan kan?? Ok deh, aku tahu kalian sibuk, aku tidak minta macam-macam kok, paling kritikan, masukan, cercaan, hinaan, juga ga apa-apa. Pokoknya aku mau belajar ngeblog sampai bisa dan sampai pikiranku tenang. Okay deh guys, aku tunggu ya....

ebs.